Hampir tidak mungkin membangun perangkat lunak tanpa menyentuh kode milik orang lain. Saat kamu menggunakan library, framework, atau sekadar potongan kode dari internet, sebenarnya sedang berinteraksi dengan “License Open Source” atau Lisensi Sumber Terbuka.
Bagi para developer, memahami lisensi ini bukan hanya urusan hukum, melainkan fondasi etika dan strategi bisnis.
Salah pilih lisensi bisa membuat proyek komersial terpaksa harus ikut dibuka kodenya, atau sebaliknya, lisensi yang terlalu longgar bisa membuat karya kamu diklaim sepihak oleh korporasi besar.
Artikel ini akan membahas daftar lengkap license open source, dari yang paling permisif seperti MIT hingga yang paling ketat seperti GPL.
Apa Itu Lisensi Open Source?
Sebelum masuk ke daftar, penting untuk memahami definisinya.
Lisensi Open Source adalah kontrak hukum yang menentukan bagaimana kode sumber sebuah perangkat lunak dapat digunakan, dimodifikasi, dan didistribusikan ulang oleh pihak lain.
- Permisif, Bebas menggunakan kode untuk keperluan apa pun, termasuk membuat produk proprietary (tertutup) tanpa kewajiban membuka kode modifikasi.
- Copyleft, Membolehkan modifikasi dan distribusi, namun dengan syarat ketat bahwa hasil modifikasinya harus dilisensikan dengan lisensi yang sama (tetap terbuka).
Berikut adalah daftar lengkap license open source yang paling populer dan wajib diketahui.
1. MIT License
Kategori Permisif, “Lakukan sesukamu, tapi jangan tuntut aku.”
MIT adalah primadona di dunia open source. Lisensi ini sangat pendek, mudah dipahami, dan memberikan kebebasan maksimal.
Kamu boleh menggunakan, menyalin, menggabungkan, mempublikasikan, mendistribusikan, bahkan menjual kode tersebut.
- Kamu wajib menyertakan teks lisensi dan copyright asli di dalam proyek.
- Tidak ada garansi. Pengguna kode tidak bisa menuntut pembuat aslinya.
Cocok untuk library kecil, proyek pribadi, atau jika kamu ingin adopsi seluas-luasnya (termasuk oleh perusahaan besar untuk produk komersial). Contoh: React, Node.js, Rails.
2. Apache License 2.0
Apache License kategori Permisif (Protektif), “Silakan pakai, tapi hormati merek dagang dan paten saya.”
Ini adalah “kakak” dari MIT. Sama-sama permisif, namun Apache 2.0 lebih “berisi” karena dibuat oleh para pengacara. Keunggulan utamanya adalah memberikan hak paten eksplisit kepada pengguna.
- Sama seperti MIT, namun kamu harus memberi tahu jika ada file yang diubah.
- Melindungi pembuat dari tuntutan paten. Jika kamu menuntut pembuat soal paten, hak kamu untuk menggunakan kode tersebut langsung gugur.
Cocok untuk proyek enterprise dan besar yang ingin dilindungi dari serangan hukum paten. Contoh: Android OS, Kubernetes, Apache HTTP Server.
3. BSD Licenses (2-Clause & 3-Clause)
BSD License kategori Permisif, “Bebas, asal jangan pake nama kami buat promosi.”
Lisensi BSD memiliki beberapa varian, yang paling umum adalah 2-Clause dan 3-Clause.
Mirip dengan MIT, namun 3-Clause memiliki satu tambahan penting: klausul “No Endorsement” (Tidak boleh menggunakan nama pembuat untuk mendukung produk turunan).
- 2-Clause: Wajib menyertakan copyright dan disclaimer.
- 3-Clause: Ditambah larangan memakai nama organisasi pembuat untuk promosi tanpa izin.
Proyek yang ingin sangat bebas namun menjaga reputasi branding penciptanya. Contoh: Go, FreeBSD.
4. GNU General Public License (GPL) versi 2.0 & 3.0
GPL kategori Copyleft (Kuat), “Silakan pakai dan ubah, tapi jika kamu sebarkan, buka juga kode rahasiamu.”
Inilah “monster” di dunia open source. GPL adalah lisensi copyleft yang paling terkenal dan paling ketat. Filosofinya yang digagas Richard Stallman adalah kebebasan pengguna, bukan kebebasan developer untuk menutup kode.
- GPLv2: Jika kamu memodifikasi dan mendistribusikan ulang (termasuk sebagai bagian dari software komersial), seluruh kode sumber aplikasi HARUS dirilis di bawah lisensi GPLv2 juga. Ini sering disebut “viral effect”.
- GPLv3: Lebih modern, menambahkan anti-DRM (Tivoization) dan kompatibilitas dengan lisensi lain.
Jika kamu ingin memastikan bahwa kode dan semua turunannya akan tetap bebas selamanya. Contoh: Linux Kernel, WordPress.
5. GNU Lesser General Public License (LGPL)
LGPL kategori Copyleft (Lemah), “Library-nya tetap terbuka, tapi aplikasi indukmu boleh tertutup.”
Lisensi ini biasanya digunakan untuk library. Jika kamu menggunakan library LGPL secara dinamis (sebagai shared library), aplikasi proprietary kamu tidak harus ikut menjadi open source. Namun, jika kamu memodifikasi library itu sendiri, modifikasinya harus dirilis dengan LGPL.
Membolehkan linking dari software proprietary tanpa “menyebarkan” virus copyleft ke seluruh aplikasi.
Cocok untuk framework atau library yang ingin tetap open source, tapi ingin diadopsi oleh software komersial tertutup. Contoh: Qt (versi lama), FFmpeg.
6. Mozilla Public License 2.0 (MPL)
Kategori Copyleft (Moderat / File-Based), “File asli tetap terbuka, file baru yang kamu tambahkan boleh tertutup.”
MPL adalah jalan tengah antara permisif dan GPL. Copyleft-nya berlaku per-file, bukan per-proyek. Artinya, kamu wajib membuka kode hanya untuk file-file asli yang berlisensi MPL. Kode baru tulis di file terpisah bisa tetap proprietary.
Lebih fleksibel dari GPL untuk penggunaan komersial karena tidak mewajibkan seluruh aplikasi menjadi open source.
Cocok untuk proyek yang ingin mendorong kontribusi balik ke inti kode (core) tetapi tetap memungkinkan pengembangan fitur eksklusif di atasnya. Contoh: Firefox, Thunderbird.
Kesimpulan
Memilih lisensi adalah keputusan strategis. Memahami daftar lengkap license open source langkah awal untuk menjadi developer yang tidak hanya jago koding, tetapi juga bertanggung jawab secara legal dan etis.
Jangan ragu untuk menyertakan file LICENSE di repository itu adalah “kartu identitas” yang menentukan bagaimana karya akan hidup dan berkembang di dunia.
